BLOG PEMILU 2009

BLOG PEMILU

ENGGAN BERTEMU SBY, MEGAWATI BUKAN SEORANG NEGARAWAN

leave a comment »

REKOR MURI

BUKAN NEGARAWAN: Direktur Musium Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana ( kanan) memberikan Plakat Muri kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri (2 kanan), disaksikan Taufik Kiemas (2 kiri), dan Sekjen PDI Perjuangan, Pramono Anung (kiri), di Jakarta, Selasa (10/3/2009). Keengganan Megawati bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono dipandang seorang pengamat politik sebagai sikap bukan negarawan. (Antara)

HARAPAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk merajut silaturahmi dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sepertinya masih bertepuk sebelah tangan. Putri dari negarawan Soekarno itu terkesan masih menyimpan dendam, sehingga menutup rapat-rapat pintu komunikasi dengan SBY. Dalam pandangan pengamat politik, sikap keukeuhnya Megawati tersebut tentunya akan merugikan bagi yang bersangkutan dan pencitraan partai di mata publik.
“Sikap Mega yang enggan bertemu SBY membuktikan bukan sebagai negarawan. Padahal semestinya Mega menangkap tawaran itu untuk meredakan stigma demdam yang selama ini teropinikan,” ungkap pengamat politik Tjipta Lesmana, Selasa (17/3).
Padahal, kata dia, dalam konteks komunikasi politik, bertemu atau bersilaturahmi para tokoh bangsa bukan sekadar untuk koalisi belaka, tapi sekaligus memberikan teladan kepada rakyat jika elitnya juga rukun. “Memang Mega atau PDIP mengambil langkah oposisi terhadap pemerintahan SBY, tapi bukan berarti silaturahmi putus,” tandasnya.
Tjipta Lesmana mengaku tidak memahami lebih jauh dendam Mega yang begitu kentara dengan memperlihatkan keengganannya menerima SBY yang menyatakan siap bertemu kapan dan di mana pun. “Mungkin karena perempuan kalau sudah sakit hati lama sembuhnya, jadi emosional, pendendam. Dan memang dalam ilmu psikologi wanita lebih emosional,” kata pengajar di Universitas Pelita Harapan itu.
Oleh sebab itu, Mega sebagai pemimpin bangsa semestinya membuka diri terhadap SBY, di mana saat ini adalah momen tepat untuk mencairkan kebekuan tersebut. Perbedaan politik bukan menjadi halangan bagi partai membangun kerja sama politik. “Jadi yang harus dikedepankan oleh pemimpin itu adalah bangsa dan negara, rakyat Indonesia bukan kepentingan politik partai atau kelompoknya,” papar Tjipta Lesmana.
Menurutnya, sebagai anak dari Presiden Soekarno yang merupakan negarawan besar, mestinya banyak menimba ilmu dari sang ayah, bukan bertolak belakang. Negarawan adalah pemimpin yang 100 persen mengabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.
“Saya salut dengan Gus Dur yang saya anggap juga seorang negarawan. Meski sempat tegang dengan Mega, toh akhirnya Gus Dur bisa memaafkan Mega dan ketegangan pun bisa cair,” pungkasnya. (okezone.com)

Advertisements

Written by newsmerdeka

March 17, 2009 at 3:11 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: